Kenapa Orang Lapar Jadi Galak?

Tips Kesehatan Salah satu ujian yang harus bisa dilalui saat berpuasa adalah mengendalikan emosi. Sayangnya, saat perut lapar, emosi cenderung jadi tak terkendali. Kenapa?

Tak hanya saat berpuasa, kapan pun seseorang merasa lapar, biasanya mereka cenderung jadi senewen, rewel, dan galak. Ada penjelasan ilmiah di balik fenomena ini.

Menurut pakar perilaku makan, Paul Currie, seorang profesor psikologi di Reed College, AS, mengutip Huffington Post, Rabu (31/5/2017), rasa lapar bisa mendorong orang menjadi emosional, yang menimbulkan rasa stres atau gelisah.

“Suatu organisme, ketika lapar, bisa mengabaikan sinyal itu jika ia mau, tapi tak akan bisa lama-lama,” ujar Currie. Namun selain perut keroncongan, sinyal rasa lapar juga ada aspek pikirannya. Meningkatnya emosi, gelisah, dan stres adalah sinyal yang mungkin akan bisa menarik perhatian suatu organisme.

“Anda bisa jadi berpikir kita makan karena enak, tapi mari jangan berpikir begitu. Ketika Anda benar-benar lapar dan melihat orang lain makan, biasanya Anda akan jadi sedikit emosional dan gelisah,” ucap Currie. “Kesal, marah, dan semakin Anda kelaparan, respons emosinya juga akan semakin memuncak.”

Currie menjelaskan, perut dan otak tidaklah seterpisah yang kita kira. Sebagai contoh, hormon yang memunculkan gairah makan, ghrelin, diproduksi di dalam perut, namun reseptornya ada di mana-mana di seluruh tubuh, termasuk pada bagian hipotalamus di otak. Tak hanya memicu rasa lapar, ghrelin juga bisa memicu respon gelisah yang akan hilang begitu Anda makan.

“Hal ini masuk akal karena sirkuit dan sistem tubuh berhubungan satu sama lain: reseptor yang sama, struktur anatomi yang sama,” ucap Currie. “Perilaku ini tidak muncul secara isolasi, dan masuk akal kalau kita jadi lebih muda kesal, lebih emosional (saat lapar) karena emosi-emosi itu akan mendorong kita untuk mencari makanan dan memenuhi kebutuhan nutrisi.”

Penelitian terbaru menemukan hormon lain yang juga bisa memegang peranan antara hubungan rasa lapar dan emosi: serotonin.

Sebuah studi dari University of Cambridge, dari tahun 2011 dan diterbitkan dalam jurnal Biological Psychiatry, menunjukkan, hormon yang menentukan perilaku cenderung memuncak saat stres dan saat lapar. Fluktuasi hormon ini mempengaruhi bagian otak yang terlibat dalam memicu rasa marah.